Salah Menyikapi, Pengakuan UNESCO Bisa Melayang Pergi
Eforia batik luar biasa setahun belakangan, oleh Zahir Widadi, dinilai banyak yang salah kaprah, bahkan bisa berakibat buruk. Direktur Museum Batik Pekalongan yang sekaligus salah satu tokoh yang ikut mendorong agar Batik mendapat pengakuan Unesco sebagai Warisan Budaya Non Benda Indonesia ini menyatakan bahwa kebanggaan terhadap batik disalahtafsirkan dengan menggerakkan produksi batik yang banyak dilakukan sekadar asal buat dan tidak mengikuti prasyarat yang menjadi alasan mengapa mendapat pengakuan Unesco. Batik sablon (bahkan sablon lilin/malam sekalipun), apalagi batik printing mesin, perkembangannya yang meluas akan mengganggu penilaian Unesco. Pembuatan batik yang semakin menyalahi pakem, bisa merontokkan pengakuan UNESCO pada 3 tahun mendatang, ketika mereka kembali mengaudit. Demikian dinyatakan Zahir Widadi dalam diskusi spontan di depan stand Batikpohon pada Jambore Batik Warna Alam di Pekalongan baru-baru ini.
Apresiasi tak terduga datang kepada batikpohon dari begitu banyak penyuka batik Indonesia. Kolektor, penggiat batik, media bahka tokoh fashion sekelas Oscar Lawalatta datang dan meminang beberapa koleksi terbaik batikpohon. Bagi batikpohon apresiasi ini akan menjadi pemacu untuk lebih baik lagi. Ajang Gelar Karya PKBL BUMN sangat berarti meskipun baru hanya dapat dukungan dan persiapan yang masih setengah hati.
Penantian batikpohon selama setahun untuk bisa mengikuti salah satu salah satu event pameran terbaik bagi kerajinan Indonesia bermedia kain segera terlaksana. Tidak mudah untuk bisa mengikuti pameran ini dengan hanya menampilkan produk batik yang benar-benar dibuat sendiri oleh batikpohon dan bukan produk titipan atau mengambil dari perajin lain.
Rupanya tak mudah untuk menyelesaikan proses membatik, mencelup hingga lebih 30 kali untuk setiap lembar kain, terus menerus hingga berjumlah lebih dari seratus lembar kain batik tulis dengan pewarna dari bahan pewarna alami. Semuanya sangat menguras konsentrasi, tenaga, kesabaran dan menjadi semakin menantang ketika menyadari kemampuan modal yang kebetulan jauh dari berlimpah.
Adiwastra 2011 menjadi ajang pameran dengan kemandirian batikpohon secara penuh untuk bisa berpartisipasi di dalamnya. Institusi yang semula diharapkan akan membantu mensponsori, hingga menjelang pendaftaran ditutup, tak kunjung memberi lampu kuning dukungan , apalagi lampu hijau.
Semangat berkarya dengan segenap cinta pada batik dan keinginan untuk membuktikan bahwa batik dengan pewarna bahan alam akan memiliki daya tarik untuk merebut perhatian pecinta karya kerajinan batik tradisional Indonesia, merupakan alasan yang menguatkan semangat untuk mengikuti pameran ini.
Batikpohon mengajak semuanya agar menjadikan batik dengan pewarna alami sebagai alternatif pilihan. Karena ada sebuah keyakinan dengan memilikinya dan mengapresiasi varian batik ini, maka setidaknya akan memberi kesempatan pengembangannya. Pada gilirannya nanti, sedikit demi sedikit akan mempertinggi originalitas warisan budaya ini karena batik warna alam memiliki muatan lokal yang lebih banyak. Proses pembuatannya pun lebih ramah lingkungan, karena kadar pencemaran air dan tanah yang ditimbulkan relatif rendah.
Batikpohon menawarkan pilihan, lebih dari sekadar motif dan warna, tapi juga pilihan cara mencintai batik sebagai warisan tradisi dan cara ikut mencintai bumi Indonesia.
Proses Pembuatan
Pada prinsipnya, pembuatan batik warna alam ini dari desain hingga aplikasi lilin ke kain tidak berbeda jauh dari batik tulis warna sintetis. Motif dibuat ke atas kain dengan canting tulis atau dengan cap. Pewarna yang digunakan dan pengunciannya saja yang membedakan. Tentu saja disamping jumlah pencelupan warna alam yang jauh lebih banyak, yaitu hingga mencapai 20-30 kali pencelupan untuk setiaplembar batik
Kembalikan ke Bumi
Sebagai bentuk imbal balik atas yang alam berikan berupa tanaman bahan pewarna alam untuk produk batikpohon, dari setiap kelipatan Rp 20.000,-untuk setiap batik yang Anda beli, Rp 500,- diantaranya akan kami sisihkan untuk upaya mendukung upaya penanaman kembali tanaman bahan pewarna alami.
Batikpohon 100% Batik Tulis & Batik Cap
Cara pembatikan dengan canting tulis merupakan pilihan utama Batikpohon. Setiap motif dibuat sangat terbatas sehingga lebih eksklusif. Demikian juga dengan batik cap yang kami buat tidak diproduksi dalam jumlah yang sangat masal. Batik pohon menerapkan cara terbaik pengerjaan batik seperti seharusnya batik dibuat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar